Proses fotosintesis pada tanaman karet merupakan salah satu proses pengurangan entropi dan membangun keseimbangan energi sehingga semakin banyak populasi tanaman karet, keseimbangan energi makin cepat tercapai. Energi matahari yang diserap oleh tanaman karet digunakan untuk kegiatan fotosintesis, respirasi, transpirasi, translokasi unsur hara dan asimilat, dan lain sebagainya. Energi cahaya yang ditangkap dalam fotosintesis diubah menjadi energi potensial yang selanjutnya digunakan untuk mengabsorbsi unsur hara, mineral dan air, mensintesis bahan organik, pertumbuhan, berkembang biak, serta melengkapi siklus perkembangannya.
Suatu laporan menyebutkan bahwa sebatang pohon secara taksiran kasar, dalam satu hari menyerap CO2 antara 20 dan 36 gram per hari. Bila di lahan satu hektar terdapat 300 batang karet, maka CO2 yang diserap sebanyak
6—10,8 kg per hari atau 180 kg—324 kg per bulan atau 2,1 ton—3,8 ton per tahun. Jadi, kontribusi kebun karet PTPN VII seluas 35.145 hektar dalam menyerap CO2 sebanyak 210,8—379,5 ton per hari atau 6.326—11.386 ton lebih per bulan atau 75 ribu—136 ribu ton lebih per tahun.
Suatu estimasi dilaporkan bahwa 2 acre (0,8094 ha) luas pertanaman di Amerika dalam setahun menyerap CO2 yang setara dengan CO2 yang diemisikan oleh dua mobil yang menempuh jarak 26.000 mil (41.842,944 km); dan menurut sumber tersebut 2 acre (kurang dari satu hektar) luas lahan berpepohonan di Brooklyn cukup untuk mengkonpensasi penggunaan bahan bakar oleh dua mobil yang menempuh jarak 7.200–8.700 mil (11.587,27–14.001,29 km). Berarti, dengan 35.145 hektar kebun karet milik PTPN VII bisa mengkompensasi 70.290 mobil yang menempuh jarak seperti tersebut di atas. Artinya, CO2 yang dikeluarkan seluruh kendaraan di Lampung sebenarnya bisa diserap oleh seluruh kebun karet PTPN VII. Tanaman karet memiliki kanopi lebih lebar dan permukaan hijau daun yang luas sehingga penyerapan CO2 akan lebih banyak. Estimasi lainnya menyebut tanaman karet dalam satu siklus dapat mengikat CO2 udara sebanyak 660 ton/hektar atau rata-rata per tahunnya dapat mengikat CO2 sebanyak sekitar 23 ton/hektar. CO2 diubah menjadi bentuk organik penyusun jaringan tanaman seperti batang, akar, daun, biji dan lateks. Saat ini kebun karet di PTPN VII (Persero) seluas 35.145 hektar. Jika rata-rata setiap hektar kebun karet tersebut mampu mengikat CO2 sebanyak 23 ton per tahun, maka kontribusi kebun karet PTPN VII dalam pengikatan CO2 di bumi Indoneia adalah 35.145 hektar x 23 ton adalah 808 ribu ton.
Berdasarkan statistik PBB, pada tahun 2004, emisi CO2 Indonesia mencapai 380 juta ton (United Nations Statistic Division, 2007). Emisi ini berasal dari penggunaan bahan bakar fosil untuk industri, transportasi dan rumah tangga, sehingga kontribusi kebun karet PTPN VII dapat mengikat emisi CO2 nasional sebesar 2,1%.Nah sekarang, Bagaimana tumbuhan/pohon bila dikaitkan dengan produksi oksigen? Hasil estimasi ilmiah menunjukkan bahwa dalam sejam satu lembar daun memproduksi oksigen sebanyak 5 ml. Bila rata-rata jumlah daun per pohon 200 lembar, maka tiap hektar pohon karet milik PTPN VII akan menyumbang oksigen sebanyak 300 pohon x 200 x 5 ml = 300 liter per jam. Berarti, setiap jam seluruh kebun karet PTPN VII menghasilkan oksigen sebanyak 35.145 ha x 300 liter = 10.543.500 liter. Angka ini setara dengan jumlah kebutuhan oksigen untuk pernapasan sebanyak 198.933 orang (kebutuhan oksigen untuk satu orang bernapas adalah 53 liter per jam). Berarti, semakin luas tanaman karet maka kemampuan menciptakan oksigen akan semakin cepat atau konversi gas CO2 menjadi oksigen akan semakin bertambah. Tanaman karet juga mampu menaikkan kandungan air tanah dan kelembapan udara. Tanaman karet juga dapat berfungsi sebagai pematang angin, penambah kualitas air tanah, penangkal intrusi air laut, pengurang cahaya silau, dan penyerap zat penawar seperti gas, partikel padat, serta aerosol dari kendaraan bermotor dan industri.
Selanjutnya, pada saat peremajaan karet pada umur 30 tahun, kayu karet memiliki nilai ekonomis yang tinggi untuk memenuhi kebutuhan industri kayu. Dengan dilarangnya praktek pembakaran pada perkebunan karet dan dimanfaatkannya kayu karet untuk furniture dan medium density fibre (MDF), maka karbon tetap disimpan dalam kayu dan tidak dilepas ke udara. Karet hasil penanaman kembali (replanting) akan berfungsi sebagai penampung CO2 yang baru.
Berdasarkan uraian di atas, dapat diartikan bahwa perkebunan karet saat ini berjasa dalam hal carbon sequestration atau menurunkan level CO2 udara. Tentu saja selain juga berjasa bagi lingkungan, karet juga merupakan sumber penghasilan bagi jutaan pekebun karet di Indonesia.





