Mengakui kesalahan membutuhkan keberanian tinggi dan jiwa besar serta sifat tawadhu’ yang mantap. Sekalipun nafsu membisiki bahwa pengakuan bisa menjatuhkan martabat. Maka bersungguh-sungguhlah untuk berada diatas kebenaran, sebagaimana menerima permohonan maaf juga merupakan sifat tawadhu dan kemuliaan yang cukup tinggi. Maka jiwa yang kotor mengharapkan kesalahan orang lain, agar merasa puas dengan memberi keritik, introfeksi dan ketentraman.
Ibnu al-Qayyim mengungkapkan bahwa barang siapa yang berbuat jahat kemudian ia datang meminta maaf terhadap kesalahan yang dilakukannya, maka sesungguhnya sifat rendah diri mengharuskan menerima permohonan maafnya, adapun permohonan maafnya itu benar atau berpura-pura maka serahkanlah pada Allah semata.
Adapun ciri dan tanda-tanda tawadhu adalah jika terdapat kekurangan dalam permintaan maafnya seseorang maka tidaklah dipermasalahkan.
Ibnu al-Qayyim mengungkapkan bahwa barang siapa yang berbuat jahat kemudian ia datang meminta maaf terhadap kesalahan yang dilakukannya, maka sesungguhnya sifat rendah diri mengharuskan menerima permohonan maafnya, adapun permohonan maafnya itu benar atau berpura-pura maka serahkanlah pada Allah semata.
Adapun ciri dan tanda-tanda tawadhu adalah jika terdapat kekurangan dalam permintaan maafnya seseorang maka tidaklah dipermasalahkan.





